Selasa, 15 Maret 2011

Joe Sandy, Misterius Bak Superman



Joshua Sandy yang terpilih sebagai The Master terlihat lembut dan pandai berbicara. Ia adalah juara gelombang pertama The Master . Sekilas, mungkin tak disangka pria berperawakan kurus dengan kacamata minus ini memiliki kemampuan yang dapat membuat banyak orang takjub.

Pria yang mengambil nama panggung Joe Sandy ini adalah seorang ahli mental ilusi, pembaca pikiran, penghipnotis, sekaligus ahli memainkan angka-angka alias Master of Numbers . Berkat kepintarannya mengutak-atik angka ditambah penampilan bak kutu buku, Joe ditahbiskan sebagai The Nerd Magician (Pesulap “Culun”).

“Awalnya enggak terima juga dibilang culun, ha ha,” ungkap mantan pegawai bank ini kepada Tabloid Nova. “Tapi setelah saya pahami dan lakoni, ternyata memang karakter yang pas dengan saya seperti itu. Saya tidak pantas terlihat garang,” kata pria yang suka menganalogikan dirinya dengan Superman ini.

Superman, si manusia super yang menyembunyikan kesempurnaan dibalik kedok manusia biasa. Jika kebanyakan orang berusaha menutupi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki, maka Joe memilih untuk menjadi low profile . “Masyarakat selalu berfikir bahwa pesulap adalah sosok manusia super yang harus sempurna. Pada kenyataannya, kami hanya manusia biasa,” sambungnya.

Satu-satunya kemisteriusan yang dipertahankan Joe hanya setelan jas berwarna hitam-hitam. Bagaimanapun juga, sulap memang menjual hal-hal yang misterius. Lebih dari itu, aksi Joe dalam The Master banyak didominasi oleh hal-hal yang berbau intelegensia. Dalam program yang memiliki tag-line “Mencari Bintang Tanpa Mantra” ini, Joe mengeksplorasi kekuatan pikiran hingga ke titik-titik ekstrim. Salah satu laganya yang paling mencengangkan adalah saat ia menghentikan detak jantungnya sendiri selama 18 detik!

“Semua trik yang saya lakukan sebenarnya bisa dijelaskan dengan logika. Saya hanya memaksimalkan potensi kekuatan pikiran yang tersembunyi dalam diri saya,” ungkap pria yang mendalami sulap dari tahun 1999 ini merendah. 


source : Tabloidnova.com
Selengkapnya...

Romy Rafael : Liburan Sambil Go International




Romy nekat belajar hipnotis ke Amerika. Biayanya dari sebagian modal sang ayah yang sebenarnya untuk mendirikan warnet. Toh, kenekatan Romy tak sia-sia. Sepulang dari Amerika, ayah dua anak ini bisa mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sesuai dengan rencana yang aku tulis di buku kucel yang aku temukan di perpustakaan, aku memutuskan pergi kuliah ke Amerika. Tentu saja tidak memberitahu orangtua. Baru setelah sampai aku mengabari mereka, tentu saja mereka sudah tidak bisa melarangku lagi.

Lalu, bagaimana aku punya uang untuk ongkos ke sana? Dulu, kan, marak orang bisnis warnet. Papa rupanya ada kerja sama dengan temanku untuk mendirikan warnet. Temanku dapat modal dari Papa. Nah, sebagian modal itu aku pakai untuk kuliah. Untungnya di Amerika aku punya saudara, jadi biaya tempat tinggal bisa lebih murah. Aku memilih Amerika, karena di Indonesia belum ada yang bisa memberikan sertifikasi hipnoterapi.!

Selama tiga tahun aku belajar di sana, tentu banyak suka dukanya yang aku alami. Jadi tukang cuci piring hingga babysitter. Aku, kan, enggak bisa bekerja resmi karena hanya punya visa wisata.

Banyak yang aku pelajari, mulai dari fisik manusia hingga bagaimana manusia berkomunikasi. Aku tidak belajar di satu tempat saja, di National Guild of Hypnotism juga di The American Board of Hypnotherapy. Kenapa? Karena sertifikasi dan apa yang dipelajari berbeda.

Selain belajar, aku juga mulai mempraktikkan ilmu ke teman sebangku. Contohnya, aku menyuruh temanku menyembunyikan cincin entah di tangan kanan atau kirinya. Nah, dengan bahasa tubuhnya aku jadi tahu, di mana cincin itu disimpan. Setelah dicoba beberapa kali akan ketahuan sifatnya dari cara orang menyimpan cincin tersebut.

Saat memberi sugesti ke orang harus tahu karakternya seperti apa. Tentu saja karakter orang, kan, berbeda-beda. Tujuan aku mensugesti seseorang agar sama dengan statement yang aku bikin. Dengan bahasa tubuh, intonasi suara, kata-kata, aku jadi tahu apa yang ada dalam pikirannya. Itu juga menjadi salah satu dasar hipnotis.

Show Dari Meja ke Meja

Selesai belajar aku pulang ke Jakarta, mencari kerja. Mulailah aku melamar ke hotel-hotel bintang lima, di kartu namaku tertulis jabatan entertainment director. Aku juga mengubah namaku jadi Romy Rafael, agar lebih enak didengar. Pekerjaan awalku sebagai entertainer dari meja ke meja. Misalnya, ada suami istri yang memesan makanan. Nah, sambil menunggu pesanan ada waktu kosong sekitar 4 menit. Di saat jeda itulah aku datangi meja mereka lalu memberikan hiburan. Istilahnya, table hypnotis .

Selama 4 tahun aku melakukan pekerjaan tersebut, tanpa mengenal kata bosan. Berbagai pengalaman pernah aku alami. Sekali waktu aku melakukan show di depan orang-orang Yunani yang sedang makan. Usai show aku dikasih tip tanpa melihat berapa jumlahnya. Begitu sampai di meja ternyata hanya Rp 6 ribu. Aku panggil saja bagian kasirnya sambil bilang kalau meja orang Yunani itu aku yang bayar. Mereka diam saja ketika tahu aku yang membayar makan. Tapi jangan salah, aku juga pernah dikasih 100 dollar. Awalnya, aku pikir hanya Rp 50 ribu. Baru di rumah setelah aku lihat lagi, ternyata dapat tip besar. Penginnya, sih, dibingkai, tapi, kok, sayang ya. Akhirnya aku pakai buat makan juga. Hahaha.

Setelah 4 tahun, aku bekerja sama dengan PH Sandhika membuat program teve, Hipnotis . Pelan-pelan, namaku mulai dikenal publik. Sempat vakum beberapa tahun, acara tersebut kembali muncul dengan nama berbeda, Master Hipnotis .

Lalu, aku juga sempat punya sekolah hipnotis tapi sekarang sudah ditinggalkan karena tidak ada waktu mengurus. Awalnya aku mendirikan sekolah itu karena prihatin, banyak sekolah hipnotis yang sertifikatnya enggak bisa dipertanggungjawabkan. Pelajarannya juga tidak berkesinabungan. Tapi sayangnya, aku sendiri enggak punya waktu mengajar. Jadi, daripada berantakan sekolah itu aku tutup saja.

Go International

Bicara soal teman hidup, aku mempunyai istri bernama Ury serta dua anak, Xander Xavier Rafael dan Xakila Xamara Rafael. Kami bertemu saat SMA di Tunjungan Plasa Surabaya. Awalnya aku belum berani terus terang, tapi aku tertarik dari sorotan matanya. Setelah sama-sama klop, kami menikah tahun 2004. Awalnya mertuaku bingung, kok, kerjaku di bidang hipnotis, namun akhirnya mereka bisa mengerti.

Soal keluarga, aku punya prinsip, orang lain tak boleh tahu tentang keluargaku. Bagiku, keluarga bukan objek untuk dieksploitasi. Sebagai seorang wanita, tentu saja Ury pernah cemburu. Makanya kalau ada syuting ke daerah, Ury selalu ikut. Rencananya tahun depan kami akan tur ke luar negeri, Washington DC, Los Angeles, Hongkong, Thailand, Malaysia. Selain kerja, kan bisa liburan. Aku sudah membayangkan, pasti seru sekali
Selengkapnya...

Romy Rafael : Buku Lama Membuka Cakrawala


Selalu tampil dengan ikat kepala hitam. Ya, itulah identititas master hipnotis ini. Rupanya untuk menjadi seperti sekarang ini, Romy harus melakukan per­jalanan panjang. Termasuk membohongi orangtuanya.

Aku lahir di Surabaya, 12 Juli 1977 dari Papa, Imam Supeno dan Mama, Ina Sutantina. Aku sulung tiga bersaudara. Nama asliku, Rafael Romi Tunggul Widodo. Kata orangtua aku anaknya pendiam. Meski demikian aku punya “teman” khayalan.

Selain sekolah di Surabaya aku juga sempat sekolah di SMP Medan dan kembali lagi ke Surabaya saat kelas 3 SMA, karena mengikuti Papa yang kerap pindah kerja. Papa kerja di Bank Indonesia. Sementara Mama hanya ibu rumah tangga. Hanya saja, Mama orangnya sangat keras, disiplin, dan tak mau kompromi. Mungkin wataknya menurun dari kakekku yang jadi Marinir.

Sikap tak mau kompromi sudah terlihat sejak aku kecil. Aku selalu dianggap bodoh ketika pelajaran matematika, fisika, kimia nilainya jelek. Padahal nilai yang lain, seperti bahasa Inggris dan Seni Rupa bagus. Makanya Mama sampai memanggilkan guru les ke rumah. Tetap saja nilai Matematikaku jeblok. Saking penasarannya, Mama sempat membawaku ke psikolog karena nilai matematikaku tak naik-naik.

Temukan Buku Kucel

Meski kami anak pegawai BI, jangan disangka akan mudah meminta mainan atau buku ke orangtua. Padahal aku tahu, mereka bisa membelikan apa yang kami minta. Meski demikian, sekali waktu aku pernah minta buku yang saat itu sangat mahal. Buku impor yang harganya Rp 300 ribu! Setelah aku “lobi” beberapa kali, akhirnya dibelikan juga. Tentu dengan alasan buku itu sangat berguna.

Aku memang lebih suka langsung membaca buku bahasa Inggris dibanding terjemahan, karena hasilnya beda. Aku memang lebih kuat di linguistik. Bahasa Inggrisku lancar karena belajar dari buku, kamus, nonton film barat enggak pernah lihat teksnya, langsung mendengar percakapannya.

Sikap Mama yang menganggap aku bodoh terus berlanjut hingga SMP. Padahal sejak SMA aku sudah memiliki identitas sendiri. Jadi, apa maunya Mama belum tentu menjadi maunya aku. Akibatnya kami sering berantem. Cuma berantemnya diam-diam.

Di sekolah aku tak punya banyak teman. Aku tidak jago main basket, makanya aku enggak bisa ikut klub mereka. Aku juga tidak menjadi anggota klub anak-anak kaya alias tajir. Aku hanya berkawan dengan teman sebangku. Itu saja karena kami memang sama-sama pendiam. Aku juga tak punya banyak teman di rumah. Jarang sekali aku main dengan tetangga. Aku lebih suka berteman dengan buku.

Karena doyan baca buku, cita-citaku juga beda dengan anak-anak sebaya. Aku pernah punya cita-cita jadi koki, makanya aku doyan makan dan badanku waktu kecil gemuk. Lalu jadi astronot karena terpesona dengan alam di sana. Menurutku, kelak ada first contact dengan species lain. Mungkin ini pikiran gilaku. Malah, aku sudah bisa melihatnya ke depan apa yang terjadi. Aku memang terpesona dengan film-film Star Trek atau Babilon V.

Masa SMP adalah masa dimana aku menemukan sebuah peristiwa yang tidak terlupakan. Karena enggak punya teman akhirnya setiap kali istirahat, aku pergi ke perpustakaan membaca buku. Aku menemukan buku yang sudah kucel, mungkin karena sering dibaca orang ya, buku berjudul Berpikir Berjiwa Besar . Di Bab 12 buku tersebut ada perintah kita diharuskan membuat hasil akhir apa yang diinginkan, tujuan hidup, pekerjaan, lingkungan sosial hidup ini. Lalu, di halaman berikutnya dipecah lagi, apa rencana jangka pendek dalam 5 tahun ini yang bisa tercapai. Kita disuruh melupakan rencana jangka panjang, pilih rencana jangka pendek yang masuk akal dimana harus bisa dicapai dalam 1-5 tahun terdekat. Akupun langsung menuliskan apa yang diperintahkan di buku tersebut.

Tilep Uang Kursus

Lepas SMA aku memilih kuliah di UNAIR Surabaya Fakultas Ekonomi. Kok? Tujuannya agar bisa bareng dengan pacarku. Dari pacarku juga aku mengenal program Network 21, yaitu sebuah support system soal pengajaran dan logika. Bentuknya seperti sebuah seminar tentang pengembangan diri. Aku pun tertarik dan ingin mempelajari sistem tersebut.

Ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil, jadi semacam sekolah pendidikan, sekolah bisnis, sekolah yang membuat kita menjadi independen. Diajarkan bagaimana menggali daftar nama orang lain, membangun network, follow up , bahkan diajarkan cara membuat impian. Semua yang diajarkan ada di buku yang aku temukan di perpustakaan waktu sekolah dulu.

Ibaratnya hidup tanpa rencana tidak akan mencapai tujuan dan buang-buang waktu. Kadang manusia hidup dalam rutinitas. Begitu sadar sudah terlambat atau sudah tua, masalah sudah datang, penyakit mulai banyak, dan tak mungkin melamar ke tempat lain. Bisa-bisa busuk sampai pensiun di kantor. Begitu ada anak-anak baru, terjadilah sistem daur ulang. Tidak ada sekolah yang mengajarkan seperti halnya seminar yang aku ikuti tersebut.

Aku juga rajin belajar dan beli buku hipnotis. bahkan aku ikut kursus yang punya sertifikasi. Uang kursus hasil membohongi. Aku pura-pura ikut kursus bahasa Ingris yang mahal. Ketika terima uang aku buat bayar kursus hipnotis. Lalu bukti pembayaran aku bikin sendiri. Orangtua tak curiga. Apalagi saat mereka mengantarkan kursus, aku tetap masuk. Tetapi begitu mobil pergi, aku keluar lagi. Kepada pengelola kursus, aku pura-pura mau menjemput adikku. Ha..ha..ha... Karena aktif belajar hipnotis, kuliahku di Unair keteteran. Aku pun kena DO. Ya, sudah. Itu risiko. 


source : Tabloidnova.com
Selengkapnya...

Selasa, 01 Maret 2011

Wim Hof , Pria Ini Kebal Suhu Dingin

[Image: 100267_wim-hof_300_225.jpg]

Wim Hof tak pernah membutuhkan jaket tebal atau mantel penghangat saat memasuki lingkungan bersalju. Pria 50 tahun asal Belanda ini tak bisa merasakan dingin, walau berada di lingkungan bersuhu beku ekstrim.

Seperti dikutip dari laman ABC News, Hof menjadi sorotan setelah menjajal kemampuannya berjalan sejauh 100 mil di Kutub Utara hanya mengenakan celana pendek, pada 1999.

Tiga tahun setelah itu, ia mencatatkan diri di Guinness World Record setelah berhasil melewati waktu terpanjang berenang di bawah balok es Kutub Utara sejauh 80 meter. Ini dua kali panjang kolam renang kelas olimpiade.

Hof tidak pernah mengalami serangan dingin atau hipotermia, layaknya manusia yang memasuki suhu dingin esktrim. Selain dua pengalaman 'gila' di atas, ia juga pernah mendaki Mount Everest hanya bercelana pendek. Aksi ini jelas membuat banyak orang ternganga di tengah banyaknya orang meninggal akibat tak tahan melawan suhu dingin di gunung es itu.

Dokter tak mampu mendiagnosis kondisi Hof. Normalnya, ketika seseorang terpapar suhu beku, tubuh akan memasuki fase 'berjuang hidup'. Sirkulasi darah ke jemari, kaki, telinga, dan hidung biasanya terhenti demi mempertahankan aliran darah ke organ-organ inti.

Kondisi itu umumnya tak bisa dibiarkan terlalu lama. Jika suhu tubuh tak segera normal, seseorang jelas akan mengalami hipotermia. Dan ketika itu terjadi, bisa dipastikan ia akan meninggal dalam hitungan menit. Namun nyatanya, Hof mampu melewati semua kondisi kritis itu tanpa kendala.

Hof tak pernah mengalami gangguan kesehatan usai menjalani berbagai aksi 'gila' itu. Semua organ tubuhnya tetap berfungsi normal. "Semua ini masih menjadi misteri di dunia medis. Sejumlah sokter masih bekerja keras untuk menjelaskan diagnosisnya," kata Dr Ken Kamler, yang memeriksa kesehatan Hof usai aksi bertahan hidup lebih satu jam di dalam timbunan es.
Selengkapnya...

Daniel Douglas Home "Pyro-Elasto Human"

Image and video hosting by TinyPic

Daniel Douglas Home adalah salah satu pengantara psikis yang paling luar biasa pada pertengahan tahun 1800-an atau salah satu dari era penyihir pintar. Prestasi yang orang Skotlandia ini lakukan pada jarak dekat membuat takjub para elite dan petinggi pada zamannya. Dalam satu demonstrasi, ia memasuki keadaan trance biasa dan mengumumkan bahwa dia berhubungan dengan roh penjaga yang "sangat tinggi dan kuat." Sementara sedang diawasi oleh dua orang saksi yang mengapit dia, Home ditembak hingga enam inci lebih tingginya, dan dapat terlihat dengan jelas bahwa kakinya tetap kokoh mencengkram lantai. Home juga bisa terus membakar bara diatas tangannya yang kosong sama sekali tanpa cedera, suatu prestasi ia lakukan dalam beberapa kesempatan. Sir William Crookes dari British Society for Physical Research, pernah melihat Home memungut batu bara panas sebesar jeruk dan menimangnya dengan santai di kedua tangannya. Home bahkan meniup batu bara itu hingga menjadi panas dan api putih berkedip-kedip di sekeliling jari telanjang. Crookes kemudian memeriksa kedua tangan Home dan menegaskan bahwa kedua tangannya tidak terlihat telah diperlakukan secara khusus dengan cara apa pun - dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda melepuh, luka atau terbakar. Crookes berkomentar, pada kenyataannya, bahwa kedua tangan Home tetap lembut dan halus sebagai "tangan wanita." Dalam pertunjukan lain, Homes melayang keluar dari jendela lantai dua, berhenti sejenak, lalu melayang kembali ke dalam disaksikan dengan sangat heran oleh tiga saksi dari bawah.
Selengkapnya...