Sabtu, 31 Juli 2010

Sim Salabim: 300 ribu


BERMAIN sulap bukan sekedar hobi lagi. Permainan ini semakin digemari, sehingga sudah mampu menghidupi pesulapnya. Tapi mereka mengeluh karena alat-alat sulap impor mahal dan disaingi pesulap luar negeri. Ada 3 jenis sulap, kata H Samlawi, Ketua I HISSI, Sulap yang mempergunakan banyak alat, disebut sulap manipulasi. Sulap yang berdasarkan ketrampilan, disebut sulap ilusi. Dan sulap faqir, sulap yang mempergunakan mistik.

Dalam Kongres HISSI 1975 di Bandung terpilih 3 jago sulap dari masing-masing jenis. Profesor Mahkota sebagai kampiun sulap manipulasi. Sonjaya sebagai pesulap ilusi. Dan Ki Santang Boudini sebagai pesulap faqir. Makan Beling Ki Santang Boudini kabarnya pernah mengejutkan kontes sulap sedunia di Brussel pada tahun 70-an. Lelaki usia 46 tahun (nama aslinya R. Budhi Muntarko) ini antara lain dapat membuat telur di dalam rantang menjadi ular sanca yang mendesis-desis. Ia juga bisa makan beling. Di Negeri Belanda seorang dokter sempat merontgennya saat ia selesai mengunyah beling. Tapi tidak ditemukan apa-apa di dalam tubuh pesulap ini. Di negeri itu pula kabarnya ia pernah mendapat hadiah dua mobil Mercy dari seorang pejabat setempat, setelah berhasil mengobati penyakit pejabat Belanda itu hingga sembuh. Ki Santang, jebolan Akademi Akuntansi Jakarta ini yakin bisa hidup dari sulap.

Sebelum menjadi pesulap, ia pernah bekerja sebagai pemegang buku di beberapa perusahaan. Karena penghasilan pesulap lebih banyak, pekerjaan semula ditinggalkannya. Di luar negeri sebenarnya ia bisa mendapat kesempatan lebih basah lagi. Sayang tidak ada izin kerja. "Daripada ribut diuber-uber polisi di negeri orang lebih baik cari makan di Tanah Air saja," katanya. Di Indonesia ia telah menjelajahi berbagai daerah. "Jika rajin, seorang pesulap dapat mengumpulkan uang sejuta setiap bulan, mas," ujarnya tenang. Ki Santang yang menggali ilmunya dari Banten, dibantu putrinya Susy (14 tahun). I

Ia sebenarnya menyesali sikap pesulap yang kadang-kadang mau main di bar-bar dengan bayaran murah. Tetapi kemudian ia dapat memaklumi hal itu karena adakalanya seseorang sangat membutuhkan uang untuk hidup. Ia sendiri main di bar dengan tarif Rp 25 ribu sekali main. Rumahnya di Bendungan Jago Kemayoran Jakarta, tidak hanya terkenal sebagai rumah tukang sulap. Ia juga dikenal dapat mengobati dengan metode hipnotis. "Jika ada yang sakit dan tak bisa sembuh oleh dokter, cobalah sama saya," katanya menawarkan. Di Jakarta, kehidupan tukang sulap memang sudah mulai lumayan. Perkembangan kota yang menelurkan hotel, bar, klub malam dan berbagai tempat hiburan banyak memberikan sudut buat profesi ini. Tersohor misalnya pasangan Jack dan Linda, suami istri pesulap yang laris dan terus berkembang. Mereka memiliki peralatan impor yang diimbangi ketekunan berlatih terus menerus. Karena rajin dan serius, sulap bisa menjadi tiang hidupnya. Dengan kepandaian itu pula ia sempat tetirah ke seantero Indonesia dan menjelajah Asia, Eropa dan Amerika. Jack, 36 tahun, belajar sulap sejak usia 15. la juga sempat menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Trisakti -- sampai tingkat V. Ia menikah dengan Linda (32 tahun) teman kuliahnya sendiri pada 1972, setelah beberapa kali main sulap sama-sama.

Kini suami istri ini sudah menghasilkan seorang putri. "Saya hidup sehari-hari dari sulap. Dan saya tinggalkan kuliah juga karena sulap," kata Jack. Untuk sebuah pertunjukan komersial, tarif Jack sekali main Rp 300 ribu. Untuk ulang tahun atau bersifat amal, cukup Rp 50 ribu. Seringkali lebih murah jika ia kenal dengan orang yang mengundang. Ia memasang tarif (komersial) yang terbilang tinggi karena peralatan yang dipakainya bernilai jutaan. "Jika saya sebutkan nilainya orang tidak akan percaya, sebab alat-alat itu kecil-kecil saja," kata Jack. Baik Santang Boudini, Samlawi maupun pesulap lain, mengakui harga alat-alat sulap sangat mahal. Meja sulap saja bisa sampai Rp 100 ribu. Kartu sulap dan topinya masing-masing Rp 90 ribu dan Rp 100 rilu. Untunglah belakangan ini di Bandung sudah diproduksi alat-alat sulap lokal dengan harga jauh lebih murah dibanding jika diimpor. Tentu saja tidak semua pesulap sukses. Banyak di antaranya yang belum bisa hidup semata-mata dari sulap. Keluarga Samlawi sendiri, Ketua I HISSI itu mengatakan sulap belum dapat sepenuhnya dijadikan sandaran hidup. Padahal di keluarga itu, selain anak mereka yang tertua (6 anak) semuanya main sulap. Samlawi (45 tahun) mengakui sewaktu-waktu sulap memang memberikan rezeki yang lebih besar dari gajinya sebagai pegawai Bappenas. Misalnya pada 1976 untuk 5 hari main, Caltex di Riau memberinya honor Rp 400 ribu. Tapi itu hanya sekali-sekali. Ia paling banter dapat Rp 100 ribu kalau main di luar Jakarta. Dan hanya Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu untuk pesta-pesta biasa. Samlawi belajar sulap pada 1959 dari Ang Tek Tjoan yang waktu itu membuka "Petak Sulap" alias Magic Square di Rajawali Selatan -- Jakarta.

Setahun kemudian ia diangkat sebagai instruktur. Istrinya yang dinikahinya 1959 sekarang juga mahir main sulap. Pada hari-hari besar yang diselenggarkan ibu-ibu, Nyonya Samlawi sering menyumbangkan keahliannya. "Hasilnya lumayan. Hobi itu selain untuk tambahan nafkah, juga untuk hiburan," ujar Nyonya Afqoriah Samlawi. "Jika Pak Sam punya permainan baru, ia demonstrasikan kepada isi rumah. Rahasianya diberitahukan dan semua diajarkan cara memainkannya. Belajarnya lucu, kadang-kadang, ejek-ejekan satu keluarga," ungkap Nyonya Samlawi lagi. Samlawi sendiri, selain main juga mengajar sulap. Setiap murid wajib membayar Rp 20 ribu setiap bulan untuk 15 macam permainan . Bila setiap bulan mencapai 45 permainan, baru bisa dianggap sebagai pesulap. Selain itu, ia juga menguasai dan mengajarkan ilmu hipnotis. Untuk mempelajari ilmu ini, tiap siswa membayar Rp 75 ribu -- sampai ilmu itu dapat dikuasai. Untuk itu ia punya beberapa ekor kelinci yang dijadikan alat percobaan. Menurut Samlawi, semua orang bisa belajar sulap dan hipnotisme. Syaratnya hanya keberanian, ketekunan dan kemauan. Ketrampilan akan diperoleh kalau rajin berlatih. Setiap pesulap bisa saja gagal. Senjata pemungkasnya adalah ketenangan. Dengan dasar ketenangan, upaya untuk mengalihkan perhatian penonton dapat diatur. "Jika sudah biasa main di depan orang banyak, kegagalan satu permainan bahkan bisa menjadi tambahan hiburan lucu bagi penonton," ujarnya. Kini di Jakarta juga muncul pesulap anak-anak.

Di Kebayoran Lama, ada kakak beradik Linda dan Lucy. Mereka putri pesulap A. Dorry (40 tahun). Dalam 5 tahun terakhir ini Linda (13 tahun) dan Lucy (11 tahun) sangat aktif. Mereka sudah 3 kali main di depan Presiden Soeharto. Presiden pada 1978 menghadiahi mereka alat-alat sulap. Linda dan Lucy sudah main di berbagai daerah, bahkan sampai menerobos Singapura. Ia menguasai sekitar 100 permainan. "Pelajaran sekolah saya tidak terganggu, walaupun sering tour. Asal bisa mengatur waktu dan tekun belajar," kata Linda Oktaviana Dorry yang masih duduk di kelas I SMP. Di luar Jakarta, sulap tampaknya belum benar-benar dapat diandalkan sebagai pekerjaan utama. Hendrik (Han Ing Hwa) di Surabaya yang sudah mulai, main sulap sejak 1959, tidak berani menyebut dirinya profesional. "Saya masih kerja lain dan istri saya masih membantu," katanya kepada TEMPO. Padahal tarifnya lumayan. Kalau main di restoran atau di klub malam sampai Rp 140 ribu seminggu -- untuk waktu 15 menit setiap pertunjukan. Dikurs Fanta Hendrik tak mau menyebutkan berapa usianya. Takut kalau itu mempengaruhi simpati para penggemar. Tapi diperkirakan sekitar 40 tahun. Ia mempelajari sulap dari seorang dokter gigi. Ketika mula-mula muncul sebagai acara selingan dalam pementasan drama Mira Delima pada 1959, harian Surabaya Post mengritiknya dengan pedas. "Penonton terbahak-bahak melihat kecanggungan seorang tukang sulap, Han Ing Hwan, mempertunjukkan kebolehannya," tulis koran itu. Sejak itu semangat Hendrik berlipat. Kini Hendrik sudah cukup punya nama di bilangan Jawa Timur. Ia mengatakan keberhasilannya itu akibat dorongan istrinya. Untuk mempertahankan kualitas permainan, Hendrik banyak membaca, melihat permainan orang lain, berlatih dan membuat alat-alat sendiri di rumahnya. Dalam setiap pertunjukan ia berusaha untuk menampilkan permainan baru. Tapi yang paling disukainya adalah memperagakan sapu tangan menjadi burung. "Selain mudah, alatnya juga mudah didapat," ujarnya. Modal Hendrik adalah ketrampilan dan kelincahan tangan. Ia tidak mempergunakan mistik. "Itu tidak ada. Mungkin tukang sulap yang tidak modern yang pakai gaib-gaib itu," ujarnya. Pertunjukannya juga ada adegan potong leher dan makan silet, tapi semata-mata tipuan. Kalau mengadakan pertunjukan di daerah, seringkali panitia mengingatkannya supaya berhati-hati. Mereka biasanya berkata. "Hati-hati di sini banyak orang yang bisa main magic." Hendrik hanya tenang-tenang saja. Dan biasanya memang tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi Hendrik mengeluh karena pesulap Indonesia belum bisa sepenuhnya menjadi ruan di rumah sendiri. Restoran, klub malam dan tempat-tempat hiburan lah, berdasarkan pengalamannya, lebih doyan pada pesulap luar negeri. Padahal baginya pesulap lokal tidak kalah dalam kemampuan. Dan honor yang diterima oleh pesulap luar negeri juga jauh lebih tinggi. "Kalau kita dikurs dengan rupiah, mereka dengan dollar. Kalau kita minum Fanta, mereka bir," keluh Hendrik.


sumber :http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1980/04/26/SD/mbm.19800426.SD53459.id.html
Selengkapnya...

Berkelana ke Dunia Tipu Daya

Mirip lirik lagu lawas kelompok musik Queen itu, Deddy Corbuzier, 31 tahun, menemukan seberkas cahaya dalam terowongan hidupnya gara-gara magic alias sulap. Ketika memulai karier, ia praktis tak punya apa-apa. Pergi ke mana-mana pun harus naik turun bus kota. Sekarang dia wira-wiri menggunakan Mercedes-Benz keluaran terbaru.

Beberapa rumah dan mobil lain yang ia miliki membuat hidupnya kini terasa nyaman. "Semua itu saya dapatkan dari profesi ini," katanya. Wajar saja, honornya untuk sekali manggung dipatok hingga Rp 60 juta. Tak ada perbedaan untuk launching produk atau sekadar pesta ulang tahun. Jumlah itu bertambah bila acara dilangsungkan di luar kota.

Deddy sedang menikmati booming bisnis sulap yang telah ia rintis sejak sembilan tahun silam. Dari pertunjukan di acara-acara kecil, ia mulai membetot perhatian publik setelah tampil di layar televisi dalam salah satu segmen acara puspa ragam.

Di panggung, ia tampil memikat dengan gaya baru, dandanan ala gothic dengan pakaian serba hitam dan rambut panjang terikat rapi. Juga dengan intonasi khas ketika berbicara yang membuatnya lekas diingat penonton. Gongnya apalagi kalau bukan teknik sulapnya yang mencengangkan. Sendok pun jadi bengkok.

Publik seakan mendapati seorang David Copperfield lokal dalam diri pesulap bernama asli Deddy Cahyadi Sundjojo itu. David yang asal Amerika telah lebih dulu memukau khalayak dengan ilusi-ilusi ciptaannya sejak pertengahan 1990-an lewat acara di televisi swasta hampir tiap malam.

Tak cuma menyukai trik-trik yang dilakukan Deddy, sejumlah orang ingin mempelajari dan menguasai teknik sulapnya. Ia tak menyia-nyiakan peluang itu dan membuka sekolah sulap. Mula-mula bernama Pentagram dan belakangan diganti menjadi Corbuzier School of Magic. Seperti pertunjukan sulapnya, sekolah ini juga mendatangkan duit.

Di sekolah itu ada beberapa kelas. Ada kelas untuk mereka yang sekadar ingin bersenang-senang atau bergaya, ada juga kelas untuk profesional yang memakai ilmu sulap untuk membantu pekerjaannya seperti dokter atau petugas penjualan. Beberapa tokoh publik seperti Aa Gym dan Agum Gumelar, menurut Deddy, pernah ikut kelas ini. "Mereka belajar sulap cuma untuk melepas penat," ujarnya.

Salah satu muridnya adalah Gede Kamajaya, 37 tahun. Pria yang berprofesi sebagai dokter ini berasal dari Bali. "Kebetulan saya sedang libur selama tiga bulan di Jakarta," katanya. Tiap akhir pekan ia menyempatkan diri belajar sulap. Sekarang ia telah mengetahui tipuan permainan sulap yang selama ini membuatnya terpesona. "Ternyata ada rahasianya," katanya sambil terbahak.

Gede tidak mereken biaya dan juga jarak perjalanan yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, menuju Bintaro, Banten, tempat sekolah sulap Deddy. "Kini saya sudah bisa pamer keahlian kepada istri saya," ujarnya lagi-lagi tergelak.

Biaya belajar sulap di sekolah Corbuzier tidaklah murah. Mereka yang ingin have fun alias sekadar tahu trik, mesti membayar Rp 1,5 juta untuk 12 kali pertemuan selama tiga bulan. Bila ingin cepat terampil, bisa dengan menggunakan jasa guru private yang biayanya dua kali lipat. Kalau ingin langsung diajari Deddy harga belajarnya menjadi Rp 6 juta.

Banyak pula yang datang untuk menjadi pesulap profesional. Umumnya, berawal dari hobi mereka sudah memiliki kemampuan menguasai trik permainan. "Di sini tinggal memoles performance saja," kata Deddy. Termasuk memberikan nama-biasanya mengikuti nama pesulap legendaris di luar negeri-dan ciri-ciri yang khas saat tampil.

Demian adalah salah satu murid Deddy yang kini mulai naik daun. Pesulap muda nan tampan ini dikenal dengan dandanan rambut berdiri dilumuri jelly gaya spike. Kecepatan tangan dan gaya membawakan trik-trik illusi Aditya Prambudi, nama asli pemuda 27 tahun ini, mampu mempesona penonton.

Acaranya yang bertajuk Demian Sang Ilusionis di sebuah televisi swasta disukai pemirsa. "Tak terasa sekarang sudah berjalan lebih dari setengah tahun," ujarnya. Hari-hari Demian sekarang diisi kesibukan tak berkesudahan. Beraksi di depan kamera dan di atas panggung atau bertemu klien kian sering dilakukan. "Hanya Senin dan Rabu saya bisa istirahat, santai atau tiduran di rumah," katanya.

Sejumlah pesulap muda lain didikan Deddy bermunculan di stasiun TV yang berbeda. Acara yang mereka bawakan memang masih trik sulap magic on the street yang murah meriah. Salah satunya Oge Arthemus yang terkenal dengan keahlian melepaskan diri dari ikatan. Beberapa waktu lalu bersama Erick Wesz dan Bow Vernon, pesulap bernama asli Iwan Saputra ini memecahkan rekor dunia bermain sulap selama 70 jam nonstop.

Mereka semua menganggap Deddy Corbuzier sebagai guru yang tidak saja memberikan ilmu tentang pertunjukan sulap, tapi juga rasa percaya diri ketika tampil di depan khalayak umum. "Dia merupakan profesor sulap di sini," Demian memuji Deddy. Namun, mereka juga menggali ilmu sulap dari internet dan sumber-sumber lain.

Sukses para pesulap muda ini diperoleh dengan kerja keras dan pengorbanan. Untuk menekuni sulap, Oge rela berhenti bekerja di sebuah perusahaan event organizer. Sedangkan Demian sempat cuti kuliah selama dua tahun. "Sekarang saya sedang menyusun skripsi," katanya.

Pengorbanan itu tak sia-sia. Demian dan teman-temannya sudah mulai menikmati buah manis dari profesi yang bermula dari hobi itu. Demian, misalnya, dalam waktu singkat sudah mendapatkan kontrak untuk rangkaian acara launching sebuah sepeda motor baru di beberapa kota. "Honornya gurih," katanya.

Sekolah sulap lain bertumbuhan di berbagai tempat di ibu kota. Salah satunya yang menyedot banyak murid adalah Magic Station yang terletak di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat. "Murid kami mulai dari anak-anak, mahasiswa sampai bapak-bapak," kata Didi Ipusu, 29 tahun, pengelola sekolah.

Gata, salah satu murid Didi, pekan lalu di depan Tempo menunjukkan kebolehan memainkan sulap menggunakan kartu remi dan untaian kalung yang lumayan untuk ukuran anak usia 12 tahun. "Kalau mau undang saya boleh aja, Om," ujarnya berpromosi.

Tak hanya tempat belajar, ajang untuk unjuk kebolehan sulap makin menjamur. Di sebuah mal kawasan Cinere ada restoran yang selalu diisi dengan pertunjukan sulap. Begitu pula di tengah kawasan Bisnis Sudirman, ada Midas Magic House, tempat makan yang memiliki nuansa magic.

Kini sulap memang naik derajat, tidak lagi sekadar hiburan pengganjal dalam satu acara tapi sudah menjadi tontonan tersendiri yang menarik. Berbagai kegiatan dan atraksi para pesulap pun memicu minat orang untuk berlatih. Berkelana di dunia yang penuh trik memang amat mengasyikkan.

sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/07/30/GH/mbm.20070730.GH124580.id.html
Selengkapnya...

Sulap Lewat Perut

MEREKA yang rajin nonton teve siaran Jakarta, barangkali kenal pasangan penghibur Gatot Sanyoto dan Tongki. Paling akhir, ke-5 kalinya setelah pertama muncul 15 Juli tahun lewat, mereka tampil dalam acara Mana Suka Siaran Niaga hari pertama 1977. Sesungguhnyalah Gatot seorang ventriloquist. Akan hal Tongki, seperti boneka pada umumnya, ia bisu. Yang ngomong semuanya Gatot.

Berkat latihan yang pada dasarnya sama seperti latihan seorang peniup saksofon -- terutama mengendalikan pernafasan -- ia bicara tanpa menggerakkan bibir, sehingga suara seolah datang dari tempat lain - dari Tongki. Tak aneh setiap habis siaran, Gatot suka menghabiskan nasi lebih dari sepiring. "Leher tidak apa-apa. Tapi perut lapar bukan main", katanya. Untuk mengurangi lapar itu pula Gatot berusaha agar tidak menghamburkan kata-kata secara berlebih-lebihan. Bukan dengan memperpendek waktu permainan, melainkan misalnya menghindari perulangan-perulangan, selain perulangan itu sendiri membosankan penonton. Untuk itu pula ia memakai naskah, dan berdasar naskah itu ia latihan lebih dulu, di muka kaca. Isteri dan anak-anaknya menyaksikan kemudian memberi komentar. "Mereka tak pernah mengijinkan saya naik langgung sebelum latihan sungguh-sungguh", katanya. Mariyun Menurut Gatot, sampai saat ini ia belum mendengar nama ventriloquist lain di negeri ini selain, pertama, seorang pastur di Surabaya. Dan kedua Mariyun asal Kutoarjo. Yang pertama boleh dibilang guru Gatot sendiri, meski katanya cuma pernah memberi petunjukpetunjuk dasar - sebab selanjutnya ia mengaku belajar dari buku yang dibelinya di Amerika Serikat. Yang kedua Gatot tahu namanya dari koran. Yang pasti Mariyun memang pernah muncul di TIM 1972 yang lalu dengan boneka yang diberinya nama Coco. Seperti juga boneka pada umumnya, Tongki terbuat dari plastik. Satu hal, ia dilengkapi peralatan tertentu sehing ga bibir dan matanya bisa digerakkan, lewat punggunK. Tapi Gatot sendiri keberatan orang lain menjamahnya, kecuali jabat tangan. Hal itu dikatakan hanya satu kebiasaan bagi seorang tu kang sulap --seperti halnya "wartawan foto tak mengijinkan orang lain memegang kameranya", katanya. Toh ia mengatakan tidak sembarang boneka bisa dijadikan kayak si Tongki. Ada yang khas dan dengan fisik yang lucu, umumnya buatan Spanyol. Dan memang Tongki sendiri buatan sana. Ketika pertama dilihat Gatot di sebuah toko di New York, 1974, tempatnya tersendiri. Entah apa sebabnya kelihatannya bahkan kumal. Ketika Gatot menyatakan mau membelinya, si pemilik toko berkata bahwa boneka itu bukan boneka seperti biasa, harganya pun mahal. Gatot mengatakan tahu untuk permainan ventriloquism. Dengan uang 20 dolar AS, boneka itu jadi miliknya. "Semula namanya Mr Farlanchin. Saya ganti Tongki - untuk mengingatkan orang akan tong sampah, sekaligus memberi perhatian anak-anak bahwa Tongki yang semula kumal ibarat mainan di tempat sampah sebenarnya toh berharga". Panjual Jamu Gatot ke Amerika Serikat bersama Band Los Morenos pimpinan Rudi Rusadi - dan 6 bulan main tetap di Restoran Rarnayana New York, dengan bayaran 5 dolar AS sehari. Tak jelas apakah ia puas dengan honor sekian. Yang terang pikirannya mengisyaratkan ia tak mungkin menyanyi atau main musik sampai tua. Itulah sebabnya ia membeli boneka yang lain dari yang biasa dan juga buku ventriloquism. Dan waktu Gatot kembali ke Indonesia, akhir 1974, boneka itu ketinggalan. Ia kecil hati buat menemukannya lagi. Tapi ketika tahun berikutnya Henny Purwonegoro melawat juga ke sana, Gatot mencoba pesan kalau menemukannya, tolong dibawa. Untung masih ada. Di AS Gatot jua rajin nonton pertunjukan teve maupun Broadway. Ada juga belajar dari Michael Tannen dari Circle Magic Shop Inc -- cuma dua minggu. Awal 19 50-an di Kediri ketika masih SD (ia kelahiran Malang, umurnya sekitar 36 tahun), Gatot sudah suka nonton sulap jual jamu. Sewaktu di SMA di Surabaya, akhir 1950-an, ia keranjingan lagi. Di sana belajar sulap pada "profesor" Tukahar, di samping mengenal ventriloquism dari seorang pastur. Ayahnya sendiri, selain guru ilmu jiwa juga bisa sulap. Meski begitu pada mulanya Gatot tak berniat menjadikan sulap dan ventriloquism sebagai andalan hidup. Hanya saja, kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga cuma sampai tingkat dua - karena soal biaya. Begitu juga di Akademi Administrasi Niaga, maupun di Fakultas Ekonomi di Malang - gagal. Ia lantas kerja di bank di Sura baya, sekali sekali menyanyi dan main sulap. Masa depan magic menurut Gatot cukup terang. Orang boleh saja mencibir, tapi "seperti halnya dunia penyanyi, sekarang toh banyak yang menyukainya". Dan Gatot sebagai penyanyi memang tidak hanya pernah melancong ke luar negeri, tapi iuga pernah jadi juara ketiga Festival Penyanyi Pop tahun 1968, setelah Frans Daromez dan Brury Pesulima. Selain itu ia yang juga kerap bikin lagu pernah meraih hadiah kedua dalam festival tingkat nasional tahun 1973 untuk lagunya Gubahan. Sementara pada festival tahun 1976 cuma mendapat hadiah kelima dengan lagu Jangan Bersedih. Lumayan.
Selengkapnya...

Berani 'Gaul' karena Sulap

Bocah itu meraung dengan wajah pucat-pasi saat digiring ke kamar praktek seorang dokter gigi. Sesaat matanya menyapu aneka peralatan yang tertata rapi di situ—mulai dari bor kecil hingga aneka "pengungkit" mini—yang serba tajam dan berkilat-kilat. Keruan saja si bocah tambah hebat mengerang saat akan didudukkan ke kursi pasien. Tak kehilangan akal, pemilik ruangan itu menjulurkan tangan ke kuping si bocah. Dan, simsalabim…, dari telinga anak itu keluarlah sejumput gula-gula. "Mau permen enggak?" dia membujuk sembari menyodorkan permen.

Pasien cilik itu ternganga keheranan dan menjadi sejinak merpati saat jarum suntik mulai bekerja. Juga ketika segala lubang di giginya diulak-alik. Dokter Gigi Willy—dia menolak disebut nama lengkapnya—memainkan sulap-sulap kecil dalam kamar prakteknya untuk memikat hati pasiennya, yang mayoritas anak-anak. Hiburan "pesulap" Willy tidak berhenti sampai di situ saja. Di kursi periksa, aneka pertunjukan kecil yang memakai peralatan gigi juga ia tampilkan. Alhasil, pasien bukan saja tidak sadar bila sudah disuntik, tapi juga ketagihan untuk kembali ke "Om Dokter".

Ide belajar sulap tebersit saat Willy menonton film Patch Adam, yang bercerita tentang dokter yang "menaklukkan" pasien dengan sulap-sulap kecil. Willy, yang berpraktek di sebuah kawasan di Jakarta Selatan, lantas mendatangi Deddy Corbuzier dua tahun silam. Dari pesulap profesional itulah—Deddy menyebut dirinya sebagai mentalist—Willy memetik ilmu sulap yang ternyata amat bermanfaat dalam menenangkan para pasiennya.

Willy hanyalah satu contoh dari sejumlah profesional yang mengantre belajar kepada Deddy Corbuzier. Mereka ingin mahir sulap dengan rupa-rupa alasan. Ada yang memanfaatkannya sebagai jembatan pergaulan dengan para klien ataupun rekan-rekannya. Bisa juga sekadar hobi. Atau sebagai arena mereka melatih konsentrasi dan analisis. Menurut Deddy, fenomena belajar sulap kini tengah merebak di kalangan profesional berusia 30-an tahun.

Fenomena belajar sulap kian berjangkit ketika keahlian para magician gencar ditayangkan di berbagai stasiun televisi swasta. Dari melihat hiburan itulah orang tertarik belajar sulap. Ada anak-anak yang belajar sulap sebagai permainan serta sebagai bagian dari khayalan dan keajaiban. Ada juga orang-orang dewasa, yang umumnya ingin belajar sulap untuk fun, senang-senang. Walau alasan yang mereka sodorkan adalah senang-senang, Deddy mengaku tidak asal memilih murid. Dia merasa harus tahu benar latar belakang profesi dan karakter mereka.

Murid-muridnya terdiri dari bankir, pengacara, anggota TNI, dokter gigi, serta para profesional lainnya. "Yang penting, saya harus tahu niat mereka. Kalau yang belajar pencopet, nanti makin pintar saja nyopetnya," kata Deddy dengan wajah serius. Untuk menampung para calon pesulap amatir ini, Deddy membuka semacam kelas sulap. Terletak di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, sekolah yang bernama Pentagram ini dibangun sesuai dengan citra pesulap. Mulai dari pagar, dinding, hingga garasi, seluruhnya dicat hitam. Di depan pintu masuk terdapat sebuah sangkar besi besar—juga dicat hitam—yang kelihatannya cocok untuk mengurung orang.

Desain interior di dalam rumah juga amat mendukung suasana belajar. Sebuah ruang tanpa sekat dikelilingi rak yang dipenuhi buku-buku, video, majalah, dan pernik-pernik sulap. Buku-buku karya mentalist asal Israel, Uri Geller, escapologist Harry Houdini, hingga video-video ilusionis David Copperfield berjajar di rak-rak. Alat-alat sulap, patung pemikir, tengkorak dengan jubah hitam, plus berbagai poster tertempel di dinding hitam. Seluruh nuansa sulap ini memperkuat aksen misterius dalam ruangan tersebut. Bahkan semua karyawan di sana mengenakan baju dan kaus hitam-hitam.

Sebagian murid dengan cerdik memanfaatkan berbagai trik yang mereka pelajari untuk memperluas pergaulan. Hendry—ia juga menolak disebut nama lengkapnya—adalah salah satu contoh. Berprofesi sebagai pengacara, Hendry terkadang harus menghadapi suasana tegang ketika berdialog dengan para kliennya. Tidak soal! Toh, ada sulap untuk mencairkan suasana. Di kantornya di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, ilmu dari Deddy ia praktekkan dengan jitu.

Saban kali suasana pertemuan dengan klien sudah kaku, dia meluncurkan kejutan-kejutan kecil. Mulai dari trik menggerakkan sendok sampai menghilangkan dan memunculkan kembali rokok atau uang. "Jika permainan disajikan secara proporsional pada saat yang tepat, pasti akan membuat suasana cair," kata Hendry, yang sudah belajar sulap selama satu tahun.

Sulap juga bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, terutama untuk menghindari pertengkaran. Jay Reyes, pekerja asing asal Filipina, mengakui manfaat belajar sulap yang seperti itu. Reyes, yang sudah belajar sulap selama setahun, biasanya mempraktekkan trik di dalam keluarga. "Kalau saya pulang telat, saya main sulap di depan anak-anak dan istri. Kontan, mereka tidak jadi marah," katanya. Reyes menambahkan, hal itu disebabkan oleh unsur hiburan yang selalu terkandung dalam sulap.

Apakah faktor hiburan semata yang membikin sulap menjadi penuh daya tarik? Pesulap Dui Montero merumuskannya sebagai berikut: ada rasa penasaran yang berakhir dengan kejutan. Dui, pesulap asal Yogyakarta, biasa menyajikan pertunjukan dengan cara yang ringan. Dia juga menerima murid-murid pemula. "Umumnya mereka belajar hanya untuk hobi," tuturnya.

Untuk mengajar para muridnya, Dui menyediakan alat-alat yang memang khusus disediakan untuk keperluan sulap. Misalnya kartu. "Itu tidak memerlukan keahlian, karena hanya untuk pergaulan," ujarnya. Berbeda dengan Dui, Deddy melihat sulap bisa juga menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan mempengaruhi orang. Hal serupa diakui pula oleh Hendry. Murid Deddy ini tadinya belajar sulap untuk "modal gaul". Tapi dia kemudian merasakan ada keuntungan lain yang lebih serius. "Dengan sulap, saya bisa meningkatkan kemampuan berkonsentrasi," katanya. Misalnya, pada trik permainan angka-angka atau menggerakkan suatu benda.

Tapi, bagaimana kaum yuppies itu masih sempat belajar sulap di tengah jadwal kerja mereka yang amat padat? Deddy Corbuzier memberikan jalan keluar: belajar dengan perjanjian. Mereka tetap bisa meneruskan pekerjaannya di kawasan bisnis "Segi Tiga Emas"—sebagian murid Deddy, misalnya, berasal dari sana—atau di bagian Jakarta mana pun. Si guru yang akan datang untuk menuangkan ilmu sulap sembari mereka bertukar pengalaman.

Lagi pula, apa susahnya melakukan itu bagi magician macam Deddy? Dia bisa menyetir dengan mata tertutup di kawasan padat lalu-lintas, bisa terjun bebas dari ketinggian. Jadi, siapa tahu dia juga bisa mengebaskan jubah Kaisar Ming-nya dan, simsalabim…, tanpa perlu repot-repot bertarung dengan kemacetan Jakarta, Deddy nongol di depan pintu rumah muridnya.

sumber :majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2003/03/03/GH/mbm.20030303.GH85502.id.html

Selengkapnya...

Demian Main Sulap Sambil Menyetir

TEMPO Interaktif, Jakarta: Demian Aditya, ilusionis, mengaku tidak bisa melepaskan sulap dari kehidupannya sehari-hari. Suami presenter Yulia Rahman ini kerap memulai aktivitas dengan memainkan atribut-atribut sulap seperti koin dan kartu.

Demian “Hidup saya selalu berhubungan dengan sulap mulai dari bangun sampai tidur lagi. Sambil menuju aktivitas, bahkan saat menyetir saya bisa memainkan koin atau kartu,” ujar Demian, seusai konferensi pers “A Mild Tantang Kreativitas 9 Ikon Indonesia”, di Bird Cage, Jakarta, Senin (23/3).

Demian mengaku, hal-hal yang ia lakukan tersebut bukan lagi dianggap latihan-latihan remeh. “Ini bukan hanya latihan, kegiatan sulap ini sudah saya anggap sebagai identitas saya. Nafas saya itu ya dunia sulap,” ucapnya.

Pemilik sekolah sulap “Demian Magic Academy” itu bahkan mengaku juga sering melibatkan orang-orang di sekitarnya manakala ia berasyik masyuk dengan atribut sulapnya.

“Kalau lagi nunggu, biasanya saya ajak orang di dekat saya bermain sulap,” ungkapnya. “Dengan terus melakukan kegiatan sulap sambil beraktivitas, saya tidak perlu lagi berpikir saat akan tampil di panggung.”

Untuk tahun ini, pencetak rekor Museum Rekor Indonesia dalam kategori “Memindahkan Bola Raksasa Berdiameter 8 Meter Berisi 7 Orang dari Jakarta ke Bandung” ini, berencana akan melakukan terobosan anyar. “Persiapannya sudah dua bulan. Konsepnya masih rahasia. Pokoknya terobosan ini merupakan sulap yang berbeda dan belum pernah dilihat orang,” kata Demian.

sumber :http://www.tempointeraktif.com/hg/gosip/2009/03/23/brk,20090323-166268,id.html
Selengkapnya...