Selasa, 15 Maret 2011

Romy Rafael : Buku Lama Membuka Cakrawala


Selalu tampil dengan ikat kepala hitam. Ya, itulah identititas master hipnotis ini. Rupanya untuk menjadi seperti sekarang ini, Romy harus melakukan per­jalanan panjang. Termasuk membohongi orangtuanya.

Aku lahir di Surabaya, 12 Juli 1977 dari Papa, Imam Supeno dan Mama, Ina Sutantina. Aku sulung tiga bersaudara. Nama asliku, Rafael Romi Tunggul Widodo. Kata orangtua aku anaknya pendiam. Meski demikian aku punya “teman” khayalan.

Selain sekolah di Surabaya aku juga sempat sekolah di SMP Medan dan kembali lagi ke Surabaya saat kelas 3 SMA, karena mengikuti Papa yang kerap pindah kerja. Papa kerja di Bank Indonesia. Sementara Mama hanya ibu rumah tangga. Hanya saja, Mama orangnya sangat keras, disiplin, dan tak mau kompromi. Mungkin wataknya menurun dari kakekku yang jadi Marinir.

Sikap tak mau kompromi sudah terlihat sejak aku kecil. Aku selalu dianggap bodoh ketika pelajaran matematika, fisika, kimia nilainya jelek. Padahal nilai yang lain, seperti bahasa Inggris dan Seni Rupa bagus. Makanya Mama sampai memanggilkan guru les ke rumah. Tetap saja nilai Matematikaku jeblok. Saking penasarannya, Mama sempat membawaku ke psikolog karena nilai matematikaku tak naik-naik.

Temukan Buku Kucel

Meski kami anak pegawai BI, jangan disangka akan mudah meminta mainan atau buku ke orangtua. Padahal aku tahu, mereka bisa membelikan apa yang kami minta. Meski demikian, sekali waktu aku pernah minta buku yang saat itu sangat mahal. Buku impor yang harganya Rp 300 ribu! Setelah aku “lobi” beberapa kali, akhirnya dibelikan juga. Tentu dengan alasan buku itu sangat berguna.

Aku memang lebih suka langsung membaca buku bahasa Inggris dibanding terjemahan, karena hasilnya beda. Aku memang lebih kuat di linguistik. Bahasa Inggrisku lancar karena belajar dari buku, kamus, nonton film barat enggak pernah lihat teksnya, langsung mendengar percakapannya.

Sikap Mama yang menganggap aku bodoh terus berlanjut hingga SMP. Padahal sejak SMA aku sudah memiliki identitas sendiri. Jadi, apa maunya Mama belum tentu menjadi maunya aku. Akibatnya kami sering berantem. Cuma berantemnya diam-diam.

Di sekolah aku tak punya banyak teman. Aku tidak jago main basket, makanya aku enggak bisa ikut klub mereka. Aku juga tidak menjadi anggota klub anak-anak kaya alias tajir. Aku hanya berkawan dengan teman sebangku. Itu saja karena kami memang sama-sama pendiam. Aku juga tak punya banyak teman di rumah. Jarang sekali aku main dengan tetangga. Aku lebih suka berteman dengan buku.

Karena doyan baca buku, cita-citaku juga beda dengan anak-anak sebaya. Aku pernah punya cita-cita jadi koki, makanya aku doyan makan dan badanku waktu kecil gemuk. Lalu jadi astronot karena terpesona dengan alam di sana. Menurutku, kelak ada first contact dengan species lain. Mungkin ini pikiran gilaku. Malah, aku sudah bisa melihatnya ke depan apa yang terjadi. Aku memang terpesona dengan film-film Star Trek atau Babilon V.

Masa SMP adalah masa dimana aku menemukan sebuah peristiwa yang tidak terlupakan. Karena enggak punya teman akhirnya setiap kali istirahat, aku pergi ke perpustakaan membaca buku. Aku menemukan buku yang sudah kucel, mungkin karena sering dibaca orang ya, buku berjudul Berpikir Berjiwa Besar . Di Bab 12 buku tersebut ada perintah kita diharuskan membuat hasil akhir apa yang diinginkan, tujuan hidup, pekerjaan, lingkungan sosial hidup ini. Lalu, di halaman berikutnya dipecah lagi, apa rencana jangka pendek dalam 5 tahun ini yang bisa tercapai. Kita disuruh melupakan rencana jangka panjang, pilih rencana jangka pendek yang masuk akal dimana harus bisa dicapai dalam 1-5 tahun terdekat. Akupun langsung menuliskan apa yang diperintahkan di buku tersebut.

Tilep Uang Kursus

Lepas SMA aku memilih kuliah di UNAIR Surabaya Fakultas Ekonomi. Kok? Tujuannya agar bisa bareng dengan pacarku. Dari pacarku juga aku mengenal program Network 21, yaitu sebuah support system soal pengajaran dan logika. Bentuknya seperti sebuah seminar tentang pengembangan diri. Aku pun tertarik dan ingin mempelajari sistem tersebut.

Ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil, jadi semacam sekolah pendidikan, sekolah bisnis, sekolah yang membuat kita menjadi independen. Diajarkan bagaimana menggali daftar nama orang lain, membangun network, follow up , bahkan diajarkan cara membuat impian. Semua yang diajarkan ada di buku yang aku temukan di perpustakaan waktu sekolah dulu.

Ibaratnya hidup tanpa rencana tidak akan mencapai tujuan dan buang-buang waktu. Kadang manusia hidup dalam rutinitas. Begitu sadar sudah terlambat atau sudah tua, masalah sudah datang, penyakit mulai banyak, dan tak mungkin melamar ke tempat lain. Bisa-bisa busuk sampai pensiun di kantor. Begitu ada anak-anak baru, terjadilah sistem daur ulang. Tidak ada sekolah yang mengajarkan seperti halnya seminar yang aku ikuti tersebut.

Aku juga rajin belajar dan beli buku hipnotis. bahkan aku ikut kursus yang punya sertifikasi. Uang kursus hasil membohongi. Aku pura-pura ikut kursus bahasa Ingris yang mahal. Ketika terima uang aku buat bayar kursus hipnotis. Lalu bukti pembayaran aku bikin sendiri. Orangtua tak curiga. Apalagi saat mereka mengantarkan kursus, aku tetap masuk. Tetapi begitu mobil pergi, aku keluar lagi. Kepada pengelola kursus, aku pura-pura mau menjemput adikku. Ha..ha..ha... Karena aktif belajar hipnotis, kuliahku di Unair keteteran. Aku pun kena DO. Ya, sudah. Itu risiko. 


source : Tabloidnova.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar